Perjalanan waktu membuat semua orang semakin tua tahun menahun, dan semakin membuat seseorang memiliki berbagai pengalaman hidup. Perjalanan tersebut dimulai dari perjalanan seorang champ yang berhasil menaklukkan bermiliar kompetitor lainnya, menakluki berbagai halang dan rintangan dan kemudian akhirnya bermuara dan ban bermuara ke ovum dan kemudian melakukan pembuahan. Setelah 9 bulan di dalam kandungan, dibawa kemanapun sang ibunda tercinta pergi, maka lahirlah seorang anak manusia ke atas muka bumi dengan disertai tangisan. Saat sang kecil menangis, orang-orang di sekitarnya sangat bahagia karena kelahirannya di atas dunia ini, namun sebenarnya sang bayi sangat takut akan berada di atas bumi ini, karena akan banyak masalah, tantangan, cobaan, dan tanggung jawab yang akan diembannya.
Hari demi hari sang bayi pun tumbuh bagaikan sebuah pohon kecil yang perlahan-lahan tumbuh menampakkan batang kecil, kemudian berangsur-angsur dedaunan pun muncul hingga menjadi semakin besar, begitu pun sang bayi. Sang bayi yang tidak punya gigi, perlahan tumbuhlah giginya dari 1, 2 dan akhirnya menjadi lengkap. Dari hanya terbaring di atas tempat tidur, kemudian melalui fase merangkak. berdiri dan kemudian dapat berjalan. Itulah proses tumbuh kembang sang bayi nan lucu dan imut, siapa pun pasti akan sangat ingin melihatnya. Satu hal yang paling dinanti semua orang adalah kata pertama yang akan diucapkan oleh sang bayi kecil, apakah kata “mama”, “papa”, atau apa.
Fase balita (bawah lima tahun) merupakan fase di mana pertumbuhan otak dan organ tubuh lainnya sang anak sangat rentan, untuk itu sang orang tua senantiasa waspada untuk memberikan makan, ASI, dan mainan bagi sang anak, sehingga pertumbuhan sang buah hati pun akan sangat baik untuk fase-fase berikutnya. Fase balita biasanya balita akan belajar banyak hal disekitarnya, cara bicara, cara berperilaku, benda-benda di sekitarnya, sang kecil akan menjadi seorang yang sangat ingin tahu akan benda-benda di sekitarnya, kadang dia akan menggigit sesuatu, untuk “meneliti” apakah benda itu bisa dimakan, kadang dia akan meremas-remas dengan tangan mungilnya , atau terkadang dia bereksperimen dengan cara memukulkan tangannya ke benda tersebut.
Itulah cerita indah mengenai pertumbuhan sang balita. Setelah fase itu dia akan bergabung pada komunitas yang lebih besar yaitu sekolah. Sekolah merupakan sebuah lembaga formal pendidikan yang bertujuan untuk mencerdaskan anak murid secara akal dan akhlak. Sekolah menjadi sebuah tempat bagi anak-anak untuk berkreasi, karena anak-anak pada dasarnya memiliki imajinasi dan kreatifitas yang tak terbatas, karena anak-anak tidak pernah berfikir apakah yang mereka lakukan itu salah atau benar, yang penting mereka senang melakukannya. Untuk itu sekolah harusnya mampu memfasilitasi hal ini, bukannya terlalu membatasi kreatifitas si anak.
Mungkin kita semua tahu bahwa anak kecil sering kali berceloteh pertanyaan-pertanyaan sederhana, sebagai contoh : “Ma, kok pelangi warnanya bisa warna-warni yah”, atau “Pa, kalau kodok itu kok bisa lompat yah?”. Terkadang pertanyaan-pertanyaan sederhana inilah yang membuat para orang tua bingung menjawabnya, bahkan sebagian orang tua malah membalas pertanyaan anak-anak tadi dengan menjawab, “kamu nanya apa sih, udah pergi main sana, mama lagi sibuk”. Sebuah pertanyaan sederhana terkadang orang dewasa selalu menganggap remeh pertanyaan anak-anak tersebut, atau terkadang kita tidak mau mengaku kalau kita tidak tahu, atau terkadang kita malah marah jika si anak kecil tersebut bertanya. Tahukah kita, jika si anak kecil itu bertanya dan kita malah marah atau kesel, maka dia tidak akan pernah lagi ingin bertanya apa pun kepada kita, mereka akan takut bertanya karena sudah dimarahi dulu.
Celoteh sang anak, biasanya akan keluar jika dia melihat sesuatu yang menarik baginya, dan dia ingin tahu apa sebenarnya benda yang menarik tersebut. Perlu kita ketahui bersama bahwa anak kecil pada umumnya baru belajar sedikit hal, jadi biasanya sang anak akan melontarkan apa pun yang ada di kepalanya, tanpa berfikir banyak di kebanyakan kita orang dewasa. Semakin bertambah usia kita maka akan semakin banyak ilmu yang kita serap, namun karena sistem pendidikan yang diterima berbeda-beda, kesederhanaan cara berfikir anak-anak ini hilang. Kenapa harus sederhana? Sederhana di sini bukan berarti tanpa pertimbangan keilmuan, namun terkadang kita justru paranoid dengan apa yang kita lakukan. Sebagai contoh, di bangku SD kelas 1 kita semua berebut untuk angkat tangan untuk maju ke depan, namun setelah kuliah, kita menjadi takut untuk bertanya dan berkreasi, kadang kita berfikir takut ditertawakan, kadang kita berfikir bahwa kita takut dianggap bodoh, dan lain sebagainya.
Seharusnya kita berfikir sederhana tapi wajar sesuai dengan ilmu kita, maksudnya adalah jangan takut mencoba sesuatu atau berkreasi terkait ide-ide kita. Karena bisa jadi ide kita merupakan sebuah ide yang masuk akal atau baik, jangan takut ditertawakan selama kita punya ide, karena bisa jadi suatu saat kita yang akan menertawakan orang-orang tersebut.
Be Positive and Simplicity
Note : tidak semua hal bisa disederhanakan, tetapi cobalah berfikir tidak terlalu rumit, sehingga orang-orang akan mudah memahami.